Kebiasaan Orangtua Selalu Membekas

filter: 0; jpegRotation: 0; fileterIntensity: 0.000000; filterMask: 0; module:1facing:0; hw-remosaic: 0; touch: (-1.0, -1.0); modeInfo: ; sceneMode: Auto; cct_value: 0; AI_Scene: (-1, -1); aec_lux: 87.0; hist255: 0.0; hist252~255: 0.0; hist0~15: 0.0;

Kebiasaan orang tua yang sering dialami oleh anak-anak ternyata senantiasa membekas dalam otak anak. Hal ini sudah merupakan teori yang diyakini umum.

Pengalaman pribadi membuktikan bahwa apa saja yang pernah dibuat oleh orang tua yang disaksikan oleh anak-anak sulit dilupakan.

Sikap, kata-kata dan kebiasaan anak-anak dalam masa perkembangannya mencerminkan apa yang sudah biasa dilakonkan ayah-ibu dan orang dewasa lainnya di rumah.

Kebiasaan hidup orang dewasa yang dialaminya kelak bisa menjadi pola hidup yang mengulang masa kecil hampir sebagian besar anak-anak, kecuali jika ada pengalaman baru yang lain bisa mengimbangi pengalaman menarik mereka.

Dalam konteks ini peranan pendidikan lanjutan sangat penting. Pendidikan dalam keluarga menjadi dasar bagi perkembangan anak, kelak lebih disempurnakan dalam pendidikan formal di sekolah-sekolah ataupun pengalaman konkret di tengah masyarakat tempat mereka berada.

Sering orang tua mengeluh karena apa yang diajarkan pada masa kecil di rumah dilupakan setelah mereka mengalami suasana yang berbeda di lingkungan sosialnya yang lebih luas.

Namun jika direfleksikan lebih jauh kemungkinan besar peluang kecendrungan anak telah diawali di rumah tempat tinggal mereka sendiri. Tutur kata yang tidak santun, sikap kurang menghargai orang lain, suka mengabaikan nasenat guru, dan lain-lain merupakan pengulangan pengalaman mereka yang disaksikan pada drama unik yang diperankan ayah dan ibunya sendiri.