Belajar Bersaksi dari Tiga Tokoh

Atambua, ZT:

Mengalami Paskah sebetulnya kita berada dalam suasana yang menjadi inti atau asal-usul iman dan kepercayaan kita. Merayakan Paskah juga mengajak kita untuk mengukur iman kita.

Dalam tradisi yang lama paskah selalu berkaitan dengan karya agung Tuhan, yakni Tuhan yang memanggil orang yang beriman, menentukan perjalanannya, menyiapkan semua yang baik termasuk jaminan merupakan mahkota dari beriman.

Dalam kotbahnya pada Misa Minggu Paskah, 20 April 2025, Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr mengatakan, paskah berarti Tuhan lewat dan orang yang dilewati Tuhan itu mendapat keselamatan.

Bagi kita, tanah terjanji kita adalah tempat yang mulia dimana Kristus Tuhan berada. Tuhan yang mulia berada di alam kehidupan.

Tuhan yang tebungkus mati dengan pakaian, dengan cara yang Tuhan ambil sendiri keluar melepaskan diri dari semua pakaian duniawi. Ia melepaskan diri dari semua pengaruh duniawi. Tuhan sebagai roh yang bebas, tidak dibelenggu, tidak diikat oleh semua yang jasmaniah. Maka Paskah artinya Tuhan keluar dari belenggu kematian, belenggu kefanaan, dan keterbatasan.

Paskah juga berarti menang dan bangkit bersama Tuhan. Bangkit dari segala kekurangan dan keterbatasan.

Belajar dari Tiga Tokoh

Uskup juga mengajak umat gembalaannya agar belajar dari tokoh Maria Magdalena yang lebih banyak salah piker. Tuhan berkarya lain, dia simpulkan lain. Namun adalah pribadi yang telaten dan sabar dan bertekun mencari Tuhan.

Tokoh lain yang patut direnungkan sikapnya adalah Petrus. Ia dikenal banyak bicara, tanpa berpikir lebih dahulu. Bahkan pernah disebut iblis oleh Yesus sendiri. Ia merupakan prbadi sanguinis yang spontan, namun dalam perjalanan ia sebagai orang yang tambah bijaksana.

Ia yang datang kemudian, ia masuk kubur, melihat, menimbang, berpikir ulang, merefleksi, akhirnya dia mengatakan, kamilah saksi dari semuanya itu. Walau pernah dikata iblis, namun sungguh percaya kepada Tuhan.

Tokoh ketiga yaitu Yohanes Rasul sebagai pribadi yang kontemplatif. Dalam masa pembuangan ia senantiasa bermenung mencari jawaban akan siapakah Yesus, tentang perjamuan akhir, tentang bagaimana ia sampai di makamNya. Ia lalu bersaksi bahwa dirinya masuk ke makam itu, melihat langsung dan percaya bahwa Tuhan sungguh bangkit.  

Ketiganya adalah orang-orang percaya yang menyusun kisah kebangkitan Tuhan dan dari situlah berita tentang kebangkitan disusun, disempurnakan dan menjadi kisah gembira untuk kita semua.

Mengutip keyakinan St. Hironimus, orang yang percaya adalah dia yang tahu memberi hatinya untuk Tuhan. Credo, saya memberi hati. Dengan memberi hati saya menerima apa yang difirmankan Tuhan. Orang beriman bukanlah orang yang melawan Tuhan, melainkan menerima dengan segenap hati apa yang disampaikan Tuhan. Menerima, menjalankan dan berkomitmen dan untuk Tuhan dia rela berlutut menyembahNya.

“Orang yang beriman menerima kebenaran Tuhan, menerima apa yang difirmankan dan mereka percaya tentang apa yang dikatakan itu,” tandas sang uskup.   

Untuk kebenaran itu ia hidupi dengan seluruh kehidupannya. Hidupnya menjadi sebuah paskah. Jika kita bangkit bersama Tuhan, kita menjadikan paskah Tuhan untuk dunia.

Dengan kepribadian kita, kita terus bersaksi. Bersaksi di tengah keluarga, guru bersaksi di sekolah, pegawai di kantor masing-masing, petani di kebun, penjual di pasar, ojek dari atas motor ojek.

“Masing-masing bersaksi menurut dunianya, dan kita semua bangkit untuk menjadi saksi kebaikan Tuhan. Kisah paskah terus terjadi,” ungkap Uskup Domi.

Sambil bersyukur karena Tuhan pada saatnya berjumpa dengan kita, mengubah keterbatasan kita menjadi kepenuhan, kesempurnaan, kita diminta untuk pikir secara benar seperti gereja ajarkan, seperti para rasul ajarkan. Bersama Tuhan yang bangkit, kita semua bias bebas, tidak terikat dengan semua yang menjadi ikatan di dunia.  Sebab Tuhan yang bangkit menerangi kita dengan Injil dan mencurahi roh yang hidup yang menjadikan kita selalu diperbaharui. (sta)