Setiap lewat di depan rumahnya tidak pernah muncul batang hidungnya. Pernah bertamu beberapa kali pun dia tidak terlihat. Kata neneknya dia biasa begitu. Saat ada tamu hanya bisa meloi dari kamarnya.
“Sesekali menguping dan tertawa sendiri jika ada yang lucu,” cerita neneknya kepada tetangga rumah.
Ketika mengurus perkawinan pamannya, Sinta sempat singgah rumah bersama pamannya. Duduk rapat dengannya rupanya kekasih hatinya, yang tampak asing sekali.
Eusin keluar kaget melihat gadis cantik duduk searah dengan kursinya. Ia tersenyum menatap Eusin yang agak kaku. Pandangan pertama setelah pernah melihat anak itu masih bocah dengan baju seadanya.
Rasa itu ia simpan dalam hati. Beda usia membuatnya tidak ragu hingga satu saat dia bercerita polos tentang itu, tentang semua yang ditabung dalam hati. Bagai bintang jatuh ke tanah, respons sangat bagus. Selain bekerja banyak waktu tersita dengan Android saling curhat tak berkesudahan.Denyut nadi makin kencang saat bertemu. Membayangkan senyumannya saja membuat detak jantung tidak menentu.
Hari bertambah hari makin intim mereka. Kadang lupa saat ini masih penuh larangan. Ikhlas hati memang sangat terasa. Saling curhat. Saling tukar HP hingga uang pulsa, belanja online, dan memasang perhiasan emas di jari manis. *
“Cin…. Mone koen, apa kabar?” Pesan singkat itu sempat dibaca saat HP pindah tangan. Sinta geram. Dugaan lama mencuat, diwarnai isak tangis semalaman.
Dramatis memang. Pukul 23.45 wita ia nekat berlari dari tempat tinggal bersama. Gelap gulita itu menyisahkan bekas gigi di lengan pria yang tidak sebaya lagi.
Kisah kasih masih misterius. Tidak ada yang tahu. Sedang keduanya telah lama menjadi madu bagi yang lain. Pesan chatingan ini jadi saatnya. Sangat menantang. Sungguh tiada maaf bagi lelaki yang baru beberapa minggu telah mewujudkan jati dirinya. Pria yang sudah terjerat hatinya.
Keduanya pucat. Si ganteng merasa terpenjara tuduhan menipu. Cantiknya pucat setelah mogok makan. Beberapa pil ditelan cepat-cepat sebelum dirampas kekasih hatinya. Nyaris pingsan membuatnya Eusin panik. Saling tarik dan dorong hingga berjam-jam. Namun dalam bisu hingga teman-teman tetangga kamar tidak terusik sedikitpun. Sesekali isak tangis dengan volume 1 hanya didengar berdua di malam sunyi.
“Saya lemas, pil 12 biji….,” bisik Sinta. Semua omongan tidak digubris. Segelas air matang yang diberinya dipukul sampai tumpah ruah.
Masalah makin parah jika ini benar-benar terjadi. Bagaimana kalau dia benar-benar pingsan. *








Leave a Reply