Kisah Kasih Sinta (2)

Pagi itu masing-masing saling curiga. Dalam hati bertanya, “Benarkah isak tangis semalam adalah kisah nyata tidak sekedar dramatis?”

Inilah susahnya jika orang yang saling jatuh cinta hanya beda kamar kos. Galau namun terpisah hanya sejengkal.

Raut wajah Sinta menyimpan pesan. Yang terselubung butuh pencerahan. Eusin yang diam-diam curi pandang tersenyum di sudut kamarnya. Bayangan kekasih hatinya pingsan semalam hanya fatamorgana.

“Seandainya dia benar-benar pingsan tadi malam, pagi ini pasti sudah hebo,” tulis pesan singkat ke teman dekatnya yang selama ini jadi tempat curhat jika ada masalah.

Kecup kening ditolak. Ajakan untuk ngobrol diabaikan. Sehari penuh Sinta tunjuk rasa kesal yang mendalam. Hingga malamnya sempat duduk di sofa panjang tempat anak kos menerima tamu.

Dramatis memang, jika pil 12 biji tidak membuatnya sakit pagi ini. Rasa curiga ada sedikit di benaknya. Eusin sesekali menggoda dengan cerita lucu. Awalnya senyum-senyum malu. Hingga tiba-tiba Sinta tertawa keras.

“Kau memang lucu, kadang susah sekali dengan sikapmu, tapi marah terlalu lama tidak mungkin,” bisiknya.

Kalimat yang tidak beraturan ini memecah kesunyian hati sepanjang hari itu. Damai lagi tanpa kata maaf.    *)sta