Meniru Orangtua Sendiri

filter: 0; jpegRotation: 90; fileterIntensity: 0.000000; filterMask: 0; module:1facing:0; hw-remosaic: 0; touch: (-1.0, -1.0); modeInfo: ; sceneMode: SFHDR; cct_value: 0; AI_Scene: (1, -1); aec_lux: 109.0; hist255: 0.0; hist252~255: 0.0; hist0~15: 0.0;

Sore itu agak mendung, walau saat ini memang musim kemarau. Tahun ini beda dari sebelumnya, curah hujan tak menentu. Meniru lebatnya hujan di wilayah Malaka, bagian selatan pulau ini, di wilayah orang Bunaq, Lamaknen arah utara pun sempat deras hingga becek halaman.

Dering telpon sedikit mengusik perbincangan di sebuah bengkel mobil. Terdengar suara agak serak. Sesekali ada tangisan minta tolong. “Om, datang dulu. Saya tidak bisa tahan lagi dengan tingkah orang ini,” kata Tania terbata-bata. Rukunnya kedua pasutri muda ini seolah terjadwal rutin.

Isak tangis sulit terbendung bak derasnya hujan yang diceriterakan tadi. Comelan dan umpatan juga mengiring aliran air mata turun ke pipi, dan mulut yang semakin cerewet. Nasehat om bahkan permintaan maaf sang suami seolah mimpi. Kecuali si bungsu 2 tahunan menghampiri sang bunda sambil berbisik, “No. No. Jangan menangis.” Lalu bermain hp lagi dan sesekali mengulang, “No. Mama jangan menangis, saya beri hp lagi, kalau sudah cape bermain.”  Ia tidak berdaya, hanya bisa meminta bunda tidak menyerah dalam kesulitan. (Tulamalae, 07/07/2025)