Uskup Ajak Umatnya Paham Makna Trihari Suci

Atambua, ZT:

Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr mengajak umat katolik di wilayah keuskupannya agar sungguh-sungguh memahami dan menghayati makna dari perayaan iman selama trihari suci tahun 2025 ini.

Dalam kotbahnya pada Perayaan Ekaristi Minggu Palma, 14 April 2025 di Gereja Katedral Sta. Maria Immaculata Atambua, Timor, NTT Uskup Domi menjelaskan makna inti perayaan iman sejak Kamis Putih hingga Minggu Paskah yang akan dirayakan bersama umat katolik sejagat mulai 4 hari yang akan datang.

Gembala umat katolik di 3 kabupaten, Belu, Timor Tengah Utara dan Malaka ini menjelaskan, dengan merayakan Minggu Palma, umat diajak untuk bersama Yesus masuk ke kota Yerusalem sebagai raja damai dan raja kemuliaan kekal.

Penghayatan ini disusul dengan perayaan trihari suci yang dihayati sebagai pemenuhan keselamatan.

Pada hari Kamis Putih terdapat 3 hal penting. Pertama, Yesus mendirikan Ekaristi. Ekaristi yang dirayakan tiap hari berasal dari Kristus sendiri. Dia sendirilah yang menetapkan Ekaristi dan memerintahkan untuk merayakan Ekaristi sebagai kenangan akan diriNya.  

Kedua, Yesus menetapkan atau mentahbiskan para rasul sebagai imam untuk merayakan Ekaristi suci. Dan ketiga, Yesus Kristus menetapkan cinta kasih, sebagai hukum yang paling agung. Hukum cinta kasih berasal dari Krtistus.

Selanjutnya, perayaan Jumat Agung mengenangkan wafatnya Yesus Kristus. Dia menjadikan dirinya sebagai korban paskah.

Christus est victima pascalis. Kristus adalah kurban paling agung dari paskah. Kristus mengorbankan diriNya bagi kita,” kata sang uskup.

Dalam kotbah itu, Uskup Domi mengajak umatnya untuk memahami makna dari korban. Setiap kali merayakan ekaristi, kita berdiri di bawah korban Kristus di atas salib. Lutut kita, kalau berdoa lama-lama, tidak berarti kalau kita tidak satukan dengan korban Kristus di salib. Doa-doa kita, air mata kita, keluh kesah kita, perjuangan kita, pelayanan kita tidaklah berarti jika tidak disatukan dengan korban Yesus Kristus di salib.

Sang gembala umat ini menegaskan, “Tanpa bersatu dengan Kristus, doa dan perbuatan kita tidak ada artinya. Mari kita jadikan pekan suci ini sebagai pekan persatuan kita dengan korban Kristus yang tersalib. Dan itu menjadi dasar hidup kita selanjutnya.”

Sabtu Aleluia dan Minggu Paskah adalah perayaan mengenang Paskah Tuhan. Paskah berarti Tuhan membebaskan kita. Tuhan bangkit, Tuhan lewat seperti dulu melewati rumah orang Yahudi di Mesir membawa pembebasan. Kita berharap Tuhan yang adalah imam dan korban, Tuhan yang berkorban di atas salib yang bangkit itu lewat dan menyelamatkan kita.

“Dengan pokok-pokok pikiran seperti itu mari kita siap sedia merayakan pekan suci. Semoga kita menjadi umat yang rela hidup, mati dan bangkit bersamaNya,” pesan uskup mengakhiri kotbahnya. (sta)